Dalam pengalaman kehidupan saya semenjak kecil, bagaimana saya ketika itu bersahabat dengan kekacauan hingga saat saya dewasa, Dimulai dari kekacauan body hingga soul dan spiritual, pada akhirnya saya dapat mengambil satu kesimpulan dari perjalanan saya menjadi setingan saya sendiri. Satu kata yang sangat filosofis untuk diri saya, yaitu “ Jaga pintu gerbang pikiran kamu” mungkin terdengar sederhana, artinya bagaimana manusia harus bisa mengatasi pikiran-pikiran buruknya sendiri yang bisa berasala dari faktor internal dan external. Namun ternyata untuk dapat membuat entitas yang otoritatif tersebut yaitu benteng dan pasukan penjaga dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Mengapa? Ya karena manusia harus belajar mengambil makna kehidupan agar dapat mengerti bukan hanya menerima. Alchemy adalah salah satu contohnya.

DI hari anda membaca tulisan saya, saya menamakan benteng pertehanan saya dengan nama Perimeter atau pagar spiritual, Dimana Perimeter saya dijaga oleh para pasukan Persetan Logika. Sena, atau Seno yang artinya tentara yang bersifat metafisik, tidak terlihat kasat mata sebagaimana jiwa yang bernaung dalam kesadaran di tubuh kita.


Perimeter adalah batas luar atau garis luar yang mengelilingi suatu area, seperti pagar atau tembok di sekeliling tanah, atau keliling lingkaran (disebut juga lilitan). Konsep ini berasal dari bahasa Yunani "peri" (keliling) dan "meter" (hitung). Dalam konteks keamanan, Perimeter merujuk pada garis pertahanan pertama yang mencegah akses tidak sah.


Lalu apa manfaat Perimeter bagi seorang manas isa ( manusia )

1. Manfaat Perimeter secara Psikologis

Perimeter dapat menjaga Stabilitas Emosi dan Perlindungan dari "Gaslighting Batin"
Dalam psikologi manusia, ada konsep "boundary psikologis" yaitu batas yang menjaga integritas mental seseorang dari pengaruh eksternal yang merusak. Pagar spiritual yang bernama Perimeter berfungsi sebagai boundary metafisik yang memperkuat batas ini. Dalam Filosofi Jawa
seperti Ruang Rumah Tradisional (Joglo/Limasan) Struktur rumah Jawa dirancang dengan memisahkan ruang publik (pendopo) dan ruang sakral/pribadi (dalem ageng/senthong) untuk menjaga kesucian batin dan ketenangan pikiran.

Orang yang dipagari secara spiritual cenderung lebih stabil secara emosional, karena ia terlindung dari "serbuan energi" lingkungan yang chaos, baik dari konflik sosial, tekanan kolektif, maupun pola pikir negatif orang lain. Pagar ini menjadi tameng dari apa yang dalam psikologi disebut emotional contagion yaitu penularan emosi negatif yang menjadi toxic. Ia tidak mudah terombang-ambing oleh opini atau niat jahat orang lain, karena ada kesadaran batin bahwa ruang psikisnya telah diamankan.

Referensi psikologi analitis Carl Jung tentang "individuation" atau Individuasi yaitu proses menjadi diri yang utuh menjadi sangat relevan dengan pagar spiritual yang dapat membantu seseorang menjaga proses penemuan diri tanpa terlalu banyak infiltrasi dari ketidaksadaran kolektif yang destruktif (archetypos)

2. Manfaat Eksistensial

Kejelasan Arah Hidup dan Filter Realitas atau persepsi (paradoks)
Menurut saya pribadi Spiritual movement secara umum mengajarkan dikotomi kendali fokus pada apa yang bisa kita kendalikan, lepaskan yang tidak. Dalam hal setingan saya, saya mempunyai Prinsip hidup “
Keleluasan yang dapat dikendalikan dan batasan yang perlu diambil” Perimeter menjadi alat untuk menerapkan prinsip ini secara konkret, Perimeter menyaring hal-hal yang layak masuk ke dalam kehidupan, dan memblokir yang tidak esensial atau meracuni tujuan hidup.

Dalam perspektif psikologi positif, pagar spiritual mirip dengan "psychological immune system" atau sistem kekebalan psikologis yang dikemukakan oleh Daniel Gilbert. Sistem ini membantu seseorang tetap optimistis dan berfokus pada potensi diri, meski di luar "pagar" mungkin ada banyak ketidakpastian atau pesimisme. Orang yang terlindungi secara spiritual cenderung punya clarity of purpose, mereka bisa mendengar suara hati dan intuisi dengan lebih jernih, karena kebisingan dunia telah diminimalkan.

3. Manfaat Sosio Spiritual

Perimeter Menjadi Magnet Kebaikan dan Menghindari Eksploitasi Relasional
Perimeter tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga membentuk frekuensi energi yang memancar keluar. Filosofi law of attraction dalam dimensi spiritual menyebut, seperti pasti menarik seperti. Ketika seseorang membersihkan dan melindungi ruang energinya, ia secara alami menarik situasi dan relasi yang selaras dengan getaran tersebut.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan teori "self-fulfilling prophecy" jika Anda percaya diri LAYAK diperlakukan baik, Anda akan memancarkan sinyal yang mencegah orang berniat buruk mendekat. Perimeter juga melindungi dari yang biasa saya sebut "psychic vampires" istilah populer untuk orang yang secara emosional atau energi selalu menguras tanpa memberi. Dengan Perimeter, seseorang bisa berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan inti cahaya diri, sekaligus menjadi titik damai yang memancarkan ketenangan bagi sekitarnya.

Perimeter atau Pagar spiritual, dalam esensinya, bukan hanya tembok yang mengisolasi, melainkan sacred boundary yang memungkinkan seseorang hidup lebih autentik dan mencegah Energy buruk masuk kedalam diri seorang manas isa.


PERIMETER ( PAGAR SPIRITUAL)